Selasa, 01 Oktober 2019

M A N W O N O G I R I


SELAYANG PANDANG

MADRASAH ALIYAH NEGERI WONOGIRI

( M A N  W O N O G I R I )

          Pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Hal ini dalam rangka mewujudkan masyarakat yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi dan berdisiplin dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini sejalan dengan isi yang tertuang dalam Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta peraturan pemerintah sebagai pelaksananya. Tak ubahnya Madrasah Aliyah merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional dan salah satu bentuk satuan pendidikan tingkat menengah yang memiliki ciri khas dan karakteristik tersendiri.
           Madrasah Aliyah  adalah jenjang pendidikan menengah pada pendidikan formal di Indonesia, setara dengan Sekolah Menengah Atas, yang pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Pendidikan Madrasah Aliyah ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 10 sampai 12. Kurikulum Madrasah Aliyah sama dengan kurikulum Sekolah Menengah Atas hanya saja pada MA terdapat porsi lebih banyak mengenai pendidikan agama Islam. Selain mengajarkan mata pelajaran sebagaimana Sekolah Menengah Atas , juga ditambahi dengan pelajaran – pelajaran seperti : Qur’an Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqih, SKI dan Bahasa Arab.
            Madrasah Aliyah sebagaimana SMA, ada MA dan MA Kejuruan / MAK dan Madrasah Aliyah program ketrampilan. Di Indonesia, kepemilikan Madrasah Aliyah dipegang oleh swasta dan pemerintah (Madrasah Aliyah Negeri). Seperti Madrasah Aliyah Negeri Wonogiri yang saat ini telah mengalami perkembangan pesat ,ternyata mempunyai perjalanan panjang. Sejarah mencatat bahwa MAN Wonogiri mengalami tahapan tahapan perkembangan sejak berdiri pertama kali hingga sekarang sudah berusia 26 tahun.
          Sebagai sebuah lembaga pendidikan formal, MAN Wonogiri telah memiliki persyaratan secara yuridis diantaranya wilayah, gedung, tenaga pengajar, kepala , tata usaha, siswa, sarana prasarana, dan seperangkat kurikulum. Sebelum tahun 1994, MAN Wonogiri bernama MAN Surakarta Filial di Wonogiri. Artinya MAN Surakarta yang KBM nya berada di Wonogiri , dengan menempati di tiga lokasi dalam proses KBM nya. Yaitu untuk lokasi pertama di Wonokarto sekarang MIN Wonogiri, lokasi kedua di Kajen sekarang menjadi KUA Wonogiri dan lokasi yang ketiga di Kajen yang dulu  gedung MTsN Wonogiri belakang pabrik Air Mancur. Pada tanggal 19 Oktober 1993 MAN Surakarta Filial di Wonogiri berubah menjadi MAN Wonogiri yang bertempat di satu lokasi dengan alamat Jalan RM. Said Wonogiri, Tlogorejo, Singodutan, Selogiri, Wonogiri hingga sekarang.
Pada awal – awal tahun pertama MAN Wonogiri berdiri,  tentunya banyak yang harus dibenahi baik dalam bidang administrasi  dan sarana prasarana menuju sebuah lembaga pendidikan yang lebih prospektif. Sehingga ke depan MAN Wonogiri menjadi alternatif pertama dalam pelayanan pendidikan. Hal ini dilakukan tahap demi tahap mulai dari kepemimpinan Bapak  Drs. H. Djauhari Ma’muri, M. Ag sebagai Kepala MAN Wonogiri yang pertama (periode 1994 – 2002) .
            Kepemimpinan selanjutnya menekankan pada kuantitas dan kualitas Madrasah. Sebagaimana kita ketahui secara kuantitas jumlah siswa mengalami peningkatan juga dan  dalam sarana prasarana gedung semakin representatif. Hal inilah yang lebih ditekankan oleh Bapak M. Hariyadi Purwanto, M. Ag pada periode kepemimpinannya ( periode 2002 – 2010). Sedangkan secara kualitatif pada periode ini sudah mulai dirancang program – program baik secara akademis maupun non akademis menuju Madrasah yang berkualitas.
          Kualitas MAN Wonogiri dari waktu ke waktu makin teruji dan diakui oleh sebagian besar elemen masyarakat. Hal ini sejalan dengan perwujudan Visi yaitu tinggi akhlaq unggul dalam ilmu dan misi MAN Wonogiri  yaitu peningkatan penghayatan keagamaan dalam kehidupan  sehari – hari, peningkatan kuantitas dan kualitas siswa, meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, meningkatkan kualitas guru dan pegawai yang profesional, membangun dan mengusahakan gedung  asrama siswa siswi MAN Wonogiri, dan memfungsikan laboratorium Bahasa, laboratorium IPA, laboratorium komputer dan perpustakaan semaksimal mungkin. Visi dan misi yang sudah dirancang menjadi arah dan pedoman Bapak Drs. H. Nuri Hartono dalam memimpin MAN Wonogiri  berikutnya ( periode 2011 – 2017)  . Pada periode ini, berbagai prestasi baik akademis ataupun non akademis telah berhasil dicapai.  Penambahan komputer dalam jumlah besar sebagai jawaban dalam penyelenggaraan UNBK telah terwujud. Selain itu, penambahan lokal untuk proses belajara mengajar dan pengembangan gedung asrama boarding school juga menjadi branding dari program MAN Wonogiri.   Perjuangan dalam penjaringan dan perekrutan siswa melalui PPDB, juga sangat gencar dalam periode ini hingga MAN Wonogiri makin dipercaya serta eksis di tengah ketatnya persaigan/kompetisi di luar sana. Prestasi Ujian Nasional dan banyaknya siswa yang bisa menembus dan diterima di PTN makin menjadikan MAN Wonogiri benar – benar menjadi pilihan alternatif para orang tua yang akan menyekolahkan putra – putrinya di jenjang sekolah  menengah atas.
          Di hadapkan pada fenomena sekarang ini, terutama dalam perkembangan remaja dengan permasalahan yang kompleks, serta gencarnya perkembangan teknologi informasi, ketatnya persaingan hidup di luar sana maka . Madrasah mencari solusi terbaik  dari jalur akademik dan non akademik tetap dibangun dan dikembangkan secara seimbang, seiring,  sejalan. Rintisan dan program – program yang sudah dijalankan oleh para pemimpin sebelumnya, saat ini makin dilengkapi dan disempurnakan oleh Bapak Drs. Wiyana, M. Pd (periode 2017 – sekarang). Penguatan pendidikan karakter dan penegakan disiplin di semua lini dan civitas akademika menjadi titik tekan serta branding. Karena memang keduanya menjadi jawaban atas fenomena yang ada sekaligus menjadi kunci berkembang tidaknya sebuah lembaga. Dalam penerapan kedisiplinan, membutuhkan daya juang dan daya dukung yang tidak kecil. Tahap demi tahap , penyesuaian itu bisa dilakukan karena semua adalah proses. Lingkungan yang bersih, ruang baca perpustakaan , masjid dan ruang kelas yang nyaman serta tata kelola kantin serta parkir yang tertib makin menjadikan MAN Wonogiri  secara fisik mendapatkan pengakuan terbukti mendapatkan juara dalam lomba kebersihan lingkungan dan kantin antar instansi yang diadakan oleh pemerintah tingkat Kecamatan. Disamping itu, penguatan  karakter terus dilakukan melalui kagiatan ekstra kurikuler, program tahfidz dan kegiatan – kagiatan keagamaan yang lain.  MAN Wonogiri juga menjadi juara  1 tingkat Kabupaten dalam ajang lomba Tartil (ananda Istiqomah kelas XII IPA 3) dan Tilawah (ananda Qonita Salma  Safira kelas XI Agama) dan pada bulan Oktober nanti akan mewakili Kabupaten Wonogiri untuk mengikuti lomba di tingkat Propinsi. Selain itu, siswa MAN Wonogiri juga telah menyabet perak  (ananda Kristianto kelas XI IPA 2) dan perunggu  (ananda Adi  kelas XII Agama) dalam kejuaraan lomba pencak silat SMA/MA tingkat Nasional.  Pembenahan di berbagai sudut ruangan pun digalakkan sehingga MAN Wonogiri nampak semakin asri dan nyaman. Dalam bidang akademik, banyak juga siswa MAN Wonogiri dari program  IPA, IPS ataupun program Agama  telah berhasil menembus PTN baik melalui jalur SNMPTN, SBMPTN ataupun SPANPTKIN.
          Seiring bergantinya waktu, MAN Wonogiri terus berbenah diri dan menyempurnakan kekurangan – kekurangan yang ada.  Bersama para stakeholder (guru, kepala madrasah, siswa dan tata usaha) terus menjalin koordinasi tak terkecuali dengan pihak komite. Dari seluruh komponen yang ada saling bersinergi dalam mengelola dan mengembangkan MAN  Wonogiri . Tujuannya  supaya MAN Wonogiri menjadi sebuah lembaga pendidikan formal tingkat menengah atas  yang makin eksis ,  menjadi alternatif masyarakat, dan menghasilkan output lulusan yang bisa menembus PTN serta memiliki kecakapan hidup. Di samping itu , MAN Wonogiri makin bisa mewujudkan visi misinya, baik secara kuantitas ataupun kualias seiring bertambahnya usia yaitu sudah 26 tahun (19 oktober 1993 – 19 oktober 2019).
Hingga tidak berlebihan bila MAN Wonogiri di Milad ke 26 mempunyai slogan “ Bersama Seluruh Komponen Madrasah Mengoptimalkan Pendidikan Karakter dan  Penegakan Disiplin Menuju Madrasah Hebat Bermartabat ……”






BERIKUT  :
“Wajah MAN Wonogiri dalam Bingkai Sinergitas antara Kedisiplinan & Penguatan Pendidikan Karakter “
                                                            Halaman gedung selatan                                                        
 Halaman gedung utara
 Upacara Bendera setiap hari Senin sebagai wahana penegakan kedisiplinan
 Penyelenggaraan sholat istisqo’ 
 Penyelenggaraan sholat istisqo’ sebagai edukasi 
 Tasmi’ Al Qur’an Bil Ghoib 5 & 10 Juz peserta didik PK Tahfidz,
 Siap melahirkan generasi Qur’ani


Kegiatan ekstra  :
Sebagai sarana mengembangkan kompetensi non akademis  sekaligus menumbuhkan dan menguatan karakter peserta didik

 Team Bola Volly dan Futsal MAN Wonogiri , siap mewujudkan slogan “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”



 Ekstra Pramuka Gudep 01.035/01.036 siap mencetak pandu - pnadu sejati


 Atraksi dari kelompok ekstra Pencak Silat, memaksimalkan kekuatan hati dan fikiran/fokus


 Sebagian team PMR yang bertugas saat Perpegak, sebgai wujud dari rasa peduli dan jiwa menolong



“Sisi lain” dari MAN Wonogiri ….

 Parkir an  yang tertib dan rapi

Kantin Madrasah yang siap memberi pelayanan konsumsi pada peserta didik saat  jam istirahat


-------------------------------------------------------------

Jumat, 23 Mei 2014

Inspirasi Uje untuk Guru Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Asep Sapa'at

Sungguh kesedihan yang teramat mendalam kehilangan sosok guru inspiratif, Ustaz Jefri Al Bukhori. Memang, inilah sosok bijaksana, dan kita baru menyadari arti penting hadirnya setelah beliau meninggalkan kita semua.

Banyak pesan dan hikmah dari perjalanan hidupnya. Inilah momentum terbaik bagi kita untuk mengambil setiap pelajaran hidup dari beliau dan tergerak untuk melakukan kebaikan dalam sisa usia hidup kita.

Ustaz itu guru, tapi bukan sebaliknya. Kata ustaz punya makna istimewa, bahkan terkesan hanya layak disandang orang-orang khusus saja. Ustadz atau guru, punya satu kesamaan, memberikan pengajaran dan keteladanan pada banyak orang. Ruang lingkup ustadz relatif luas, sementara guru dibatasi dalam ruang lingkup sekolah.

Bagi Almarhum Ustadz Uje, ustadz itu bukan profesi tapi pilihan hidup untuk memberikan kebaikan pada orang lain. Indikator kesuksesan bukan terletak pada seberapa populer dan seberapa banyak materi yang diraih pada saat berstatus ustadz, tapi seberapa banyak orang yang hidupnya berubah menjadi lebih baik.

Guru, profesikah? Secara de jure, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah menegaskan arti guru sebagai sebuah profesi. Pertanyaan kritis bagi guru, apa motivasi utama menjadi guru? Jika hanya sekadar menjadi jalan untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarga, itu jawaban tak bervisi.

Karena banyak pekerjaan lain pun menawarkan hal serupa, bahkan lebih menjanjikan dan bisa menjamin kehidupan ekonomi yang lebih mapan. Mengapa tak pilih pekerjaan lain selain menjadi guru?

Almarhum Uje memberi pelajaran tentang arti pentingnya niat baik dan lurus. Kisah hidup yang kelam di masa lalu menjadi motivasi untuk memperbaiki dirinya sendiri, lalu berikhtiar agar orang lain tak mengalami nasib yang sama dengan dirinya.
Itulah titik balik kehidupan. Kesan humanisnya kental terasa. Ustaz juga tetaplah manusia. Sekelam apa pun masa lalu kita, selalu tersedia waktu untuk segera bertobat dan memperbaiki diri. Lantas, apa yang diperbuat setelah bertobat, itu menjadi soal yang utama.

Berapa banyak guru di Indonesia sudah punya niat baik dan lurus? Jangan sepelekan soal niat. Jika niat guru sudah baik, semoga semuanya melahirkan kebaikan bagi murid. Tapi jika niat guru sudah keliru, sadarkah bahwa hal itu bisa merusak murid-murid? Jika guru punya niat keliru, sadarilah lalu perbaiki niatnya. Guru juga manusia, bisa berbuat salah dan khilaf. Jangan lalai untuk mengintrospeksi diri.

Kalimat teduh yang selalu meluncur dari mulut Almarhum Uje di sela-sela dakwahnya, "Saya ini tidak lebih baik dari saudara sekalian. Saya ini belum berbuat apa-apa. Saya masih harus banyak belajar. Mohon maaf jika ada kata dan perilaku saya yang salah".

Beliau ingin menyampaikan pesan bahwa ustad itu bukan sosok yang sempurna. Maka, ustaz harus terus belajar membenahi diri dan harus jantan meminta maaf jika memang telah berlaku salah. Sikap rendah hati begitu tampak nyata di depan mata. Berapa banyak guru yang merasa dirinya lebih hebat dari murid?

Berapa banyak guru yang berani ucapkan kata maaf jika berbuat salah pada murid? Berapa banyak guru yang bisa akui kehebatan murid dan belajar pada murid tersebut? Ingat, guru itu manusia. Maka, tunjukkanlah sikap layaknya seorang manusia yang tak sempurna. Belajarlah dari ketidaksempurnaan itu agar guru bisa berbuat lebih baik dari waktu ke waktu.

Yang paling memesona dari Almarhum Uje, beliau bisa diterima banyak kalangan. Wajar kalau publik mengenal beliau sebagai ustad gaul. Ini bukti bahwa beliau punya kemampuan komunikasi yang handal. Pelajaran yang bisa guru cermati dari beliau adalah sikap yang tak menggurui, sederhana dalam bertutur, semangat dalam menyajikan materi, memahami karakteristik audiens.

Saya menyimak secara cermat bagaimana beliau menyampaikan materi di hadapan bapak-ibu yang sudah relatif uzur, pejabat, selebritis, narapidana, remaja, serta beragam audience lainnya. Gaya penyajiannya selalu mampu membuat audience terlibat pikiran dan perasaannya. Sebagian audience bahkan berseloroh, "Apa yang beliau jelaskan kok persis sekali dengan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan".

Kemampuan komunikasi, salah satu keterampilan yang wajib dikuasai guru. Pelajaran yang bisa dipetik dari almarhum Uje, pahami audience dan berkomunikasilah dengan hati. Sehebat apa pun penguasaan materi seorang guru, tanpa komunikasi yang baik, bisa jadi materi itu tak bisa dipahami murid. Buang jauh-jauh cara berpikir bahwa guru itu harus jaga image, jaga wibawa.

Wibawa itu justru akan terjaga jika guru bisa memahami persoalan murid dan membantu mereka mengatasi persoalannya. Bukan malah menjaga jarak dan mengambil resiko tak bisa memahami apa yang ada di pikiran dan perasaan murid. Akhirnya, materi penyajian guru jadi tak berbekas apa pun pada diri murid.

Kita semua dibuat terpesona dengan pribadi almarhum Uje. Ayah yang baik di mata anak-anak, suami yang baik di mata istri tercinta, anak yang shalih bagi orang tuanya, sahabat yang baik bagi teman-teman, dan banyak orang merasa kehilangan figur Uje. "Saya selalu menyampaikan nasihat kepada orang, lantas siapa yang bisa menasihati saya? Saya juga butuh nasihat agar hidup saya tetap lurus", ujar almarhum kepada salah satu sahabatnya di masa hidup beliau.

Guru bisa belajar pada almarhum Uje tentang arti pentingnya mendidik diri. Mustahil kita bisa mengubah kehidupan murid jika hidup kita tak pernah berubah. Banyak guru yang berpikir bahwa murid-murid harus berubah, padahal gurunya sendiri yang mesti berubah terlebih dahulu. Didiklah diri kita sendiri sebelum kita mendidik murid-murid.

Almarhum Uje sudah berhasil mendidik dirinya sendiri, keluar dari masa lalu yang kelam menuju masa kehidupan yang berarti bagi banyak orang. Kisah transformasi kehidupan yang luar biasa. Lantas, apakah guru-guru bisa konsisten mendidik dirinya sendiri agar layak digugu dan ditiru murid? Ini bicara soal kemauan, sesuatu yang sederhana untuk diucapkan tapi tak mudah untuk direalisasikan.

Akhirnya, jika kepergian ustaz Uje ditangisi banyak orang, maka berapa banyak murid-murid kita yang menangisi kematian kita nanti? Jika banyak orang hendak mengantar jenazah ustadz Uje ke pekuburan, berapa banyak murid yang berebutan ingin menandu jenazah dan menghadiri acara pemakaman kita?

Jika banyak orang terus mendoakan dan tetap mengabadikan kenangan hidup ustadz Uje di hati mereka pascawafat, berapa banyak murid yang terus terkenang dengan perilaku baik kita dan mendoakan kita bahagia dunia-akhirat? Wahai guru, renungkanlah.

Cipularang, 28 April 2013


Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Direktur Sekolah Guru Indonesia

Senin, 11 Februari 2013

Bersandar Hanya kepada Allah



86. Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya."
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Saudaraku yang dicintai oleh Alloh SWT.
                Bismillah, dengan ditemani secangkir kopi ku mencoba merangkai kata tuk pengobat hati, penenang jiwa. Tak ada kata seindah kata ampunan-Mu, tak ada obat sebaik obat istighfar hanya kepada-Mu....
Astaghfirulloh Robbal barooya-Astaghfirulloh minal khothoya....
Allohumma Anta Robbi laa ilaha illa Anta Astaghfiruka Ya Alloh Laa ya Yaghfiru dzunuba illa Anta...
Sebuah motivasi dan perenungan dari  K.H. Abdullah Gymnastiar semoga menambah keridhoaan Alloh kepada kita, meningkatkan ketaqwaan, keimanan dan yang penting ketawadhu’an kita hanya kepada-Nya semata Alloh Ya Robbal alamiin, aamiin

Bersandar Hanya kepada Allah
Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.
Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuraha wataqwaaha", "Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan". Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.
Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.
Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah (mengatakan ‘sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, "laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah.
Jabatan diambil, tak masalah, karena jaminan dari Allah tidak tergantung jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.
Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ‘ya silahkan ... Buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada Allah, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah?’ tidak apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan Allah karena kita dapat mempertanggungjawabkannya. Tidak apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi oleh Allah diberi penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.
Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Punya tabungan uang, mudah bagi Allah untuk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi Allah untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak bisa melakukan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.
Punya suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah membuat sang suami muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, lalu menggigitnya sehingga terjangkit demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate.
Otak cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.
Semakin kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kanotr, maka hendaknya istri menitipkannya kepada Allah.
"Wahai Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya agar terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan ya Allah, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh."
Insya Allah suami pergei bekerja di back up oleh do’a sang istri, subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada Allah. "Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu", (QS. At Thalaq [65] : 3). Yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. "Innallaaha ala kulli sai in kadir".
Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak kecewa. Sebab yang kita gantungi, "Lahaula wala quwata illa billaah" (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain, Insya Allah.


Senin, 21 Januari 2013

Sukses Dalam 40 Hari Ala Yusuf Mansur –


Melanjutkan artikel sebelumnya tentang melibatkan Allah dalam setiap helaan nafas, berikut ini kami coba memaparkan apa yang disampaikan oleh ustatz Yusuf Mansur dalam Riyadhah 40 hari Wisata Hati. Setiap orang pasti mempunyai permasalahan, baik masalah keuangan, jodoh, rumah-tangga, penyakit dan hajat-hajat yang lainnya. Semua permasalahan itu sangatlah kecil dihadapan Allah, dengan mudah Allah menyelesaikan permasalahan kita tersebut atau mungkin menghambat masalah yang bakal muncul (tolak bala). Banyak orang yang telah memperaktekkan Riyadhah 40 hari ini, dan hasilnya luar biasa. 

Berikut Cara sukses dalam 40 hari ala Yusuf Mansur:
  • Selama 40 hari selalu Shalat berjamaah di masjid, tanpa ketinggalan takbir pertama imam, lengkap dengan qabliyah dan ba'diyahnya. Juga Sunnah Tahiyyatul Masjid, sebagai tanda kita datang sebelum waktunya azan. Bila Anda adalah perempuan, minta izin sama suami, atau jalan sama muhrim, jika tidak cukuplah shalat di rumah saja tapi tetap stanby sebelum Azan.
  • Selama 40 hari selalu melaksanakan shalat Dhuha minimal 6 rakaat, jika mampu 12 rakaat.
  • Selama 40 hari Shalat Tahajjud 8 Rakaat + Witir 3 Rakaat.
  • Selama 40 hari selalu baca surah Al-Waqi’ah sesudah shubuh atau sesudah ashar (boleh pilih).
  • Baca zikir usai shalat, plus yaa fattaah yaa rozzaaq 11x, plus ayat kursi, plus qulhu 3x. Ini setiap usai shalat.
  • Khusus usai shalat shubuh dan ashar, ditambah 4 ayat terakhir surah al Hasyr.
  • 40 hari baca laa hawla walaa quwwata illaa billaah 300x, bebas jamnya, pokoknya 300x. Istighfar harian 100x, shalawat 100x.
  • Jaga setiap hari baca subhaanallaahi wabihamdihi subhaanallaahil 'adzhiem 100x pagi dan 100x sore. (Boleh habis dhuha dan habis ashar/jelang maghrib).
  • Menjaga setiap hari baca Istighfar 100x.
  • Selama 40 hari selalu baca surah yaasiin (bebas waktunya kapan saja, yg penting 1hr 1x).
  • Awali dengan sedekah yang besar, yang bernilai, yang sebelumnya susah untuk dikeluarkan. Atau yang beda dengan yang pernah disedekahin.
  • Tetap kerja, tetap dagang, tetap belajar, tetap beraktifitas seperti biasa. Hanya jadikan ibadah, dengan awal baca bismillah dan selesainya baca alhamdulillah.
  • Setiap selesai shalat, baik yang wajib dan sunnah, berdoa. Doa masing-masing. Boleh bahasa indonesia.

Trimakasih Copyright by www.autada.com Terima kasih sudah menyebarluaskan artikel ini
                                                                                                                             By;alfauziee-latihan